Latest Tweets:

a pair of spoon and fork

Di rumah gue yang namanya sendok-garpu itu harus seragam (seperti di rumah Redo, ya gak Do?). Nah, suatu pagi, dengan ngasalnya, gue ngambil sendok dari dapur, sendok yang baru aja di cuci, nah sendok ini tuh bukan sendok-standar-rumah-gue (yang punya banyak pasangan garpu). Terus, karena gue klo makan suka ngga pake garpu, langsunglah gue duduk di meja makan menyantap menu sarapan: telor ceplok+kecap+nasi.

Pas udah suapan - suapan terakhir, gue ternyata membutuhkan garpu buat nasi-nasi terakhir. Gue ambilah garpu dari box sendok-garpu yang emang udah disediain nyokap di meja makan (yang isinya sendok dan garpu-standar-rumah-gue). Ajaibnya, garpu yang gue ambil ternyata pasangan si sendok dari dapur. Biasa aja sih, tapi menurut gue itu ajaib.

Karena kejadian itu, gue jadi keinget omongan Shidiq, “dari semua orang yang kita temuin, untuk bisa berada dalam sebuah hubungan yang saling menyayangi itu anugrah tau. Bayangin aja, dari sekian ribu orang aja yang ada di ITB, untuk bisa kenal, itu udah takdir. Untuk bisa punya kesamaan, itu takdir. Untuk bisa suka sama orang itu, juga takdir, apalagi untuk kemungkinan orang itu suka balik, takdir juga. Semua ajaib, dan anugerah, karena ngga semua orang bisa begitu.” 

Seperti sendok-garpu di rumah gue yang cuma punya satu pasangan, tapi saat takdir berkata mereka bisa dipakai bersamaan, bukan kah itu sebuah kebetulan yang menjadi anugerah, seperti orang - orang yang bisa menemukan orang yang bisa disayang dan menyayangi balik? Apalagi kalo bisa selalu sama - sama; dua orang menikah, dan bisa sama- sama sampai akhir hayat, gue rasa itu sebuah mukjizat.

Semoga, gue, temen- temen gue, kaka - kaka gue, bonyok gue, bisa mendapatkan mukjizat sendok-garpu-yang-gak-standar-rumah-gue tadi :)

  1. wordsplay posted this